Terusir Keluar dari Nirwana

Tiga minggu sudah. Kepalaku masih saja penuh pertanyaan. Ada apa denganmu? Aku tak kunjung menemukan jawabannya. Meski semalam, aku dengar lagi suaramu. Suaramu yang menurutku menentramkan. Begitu lembut dan riang seperti biasa. Aku mendengarkan kau bercerita. Tahukah kau betapa bahagianya aku semalam?

Tapi semalam pula, bukan sepenuhnya suara riang dan penuh percaya yang aku dengar. Nada suaramu tiba-tiba meragu seiring dengan tanyaku tentang tiadamu dihari-hariku belakangan ini. Aku mulai merasa kehilanganmu. Ada apa denganmu? Sayang, aku sungguh tak mengerti. Kau bilang perasaanmu berubah. Berubah menjadi gulita terhadapku. Ketika kutanya mengapa, kau tak memberiku jawaban yang memuaskan tahuku. Aku kesal tak karuan semalam. Kau bukan seperti yang aku kenal, kau berubah sangat mengesalkan dengan keragu-raguanmu.

Tiga minggu yang lalu, dijam yang sama saat ini, aku begitu gembira. Membayangkanmu akan kembali menyapaku setelah seminggu dilautan lepas tanpa kabar. Namun ternyata, angin lautan yang menyisir sela rambutmu turut pula menghempas rindumu padaku. Kecewakah aku? Tentu saja. Aku sibuk bertanya. Lagi-lagi ada apa denganmu?

Semalam, aku takut aku akan kehilangan suaraku ketika aku berbicara padamu. Setakut perasaanku kehilanganmu.

September 2015,

Aku tak ingat pasti tanggal berapa petang itu. Ketika pertama kali aku menjabat tanganmu. Yang aku ingat, jabat tangan kita saat itu bersenandung mesra dengan diiringi semilir angin musim gugur di Oslo, aku ingat betul bagian itu. Kita menghabiskan malam bersama sebelum kau pamit meninggalkan rumahku malam itu. Malam itu juga, entah ada yang merasukiku. Aku berani meminta nomer telepon genggammu. Aku terpesona denganmu? Sepertinya begitu. Lihat saja perilakuku. Beberapa hari setelah itu tak kuduga kita asik terlibat percakapan di dunia maya, saling bertukar kabar dan cerita. Aku ingat kala itu kau mengunjungi salah satu pulau legendaris di Yunani.

Tak perlu rasanya kuceritakan detail percapakan kita. Rasanya sudah ratusan pagi kulewatkan dengan melihatmu di ponselku. Saat itu hatiku mulai membenarkan jika memang ada rasa dihatiku untukmu. Aku menyadari percakapan kita tak lagi tentang bagaimana harimu? Ada pesan lain didalam ribuan kata-kata itu. Berbaris rapi di ponsel kita berdua, berbalas senyum dan canda.

Påske, Maret 2016,

Kau memberiku kabar, kau akan mengunjungiku, selepasmu pergi ke negara paman sam. Tiba-tiba saja liburanku lebih semarak, aku tak sabar menunggumu datang. Aku menjemputmu, aku ingat saat itu aku begitu gugup, aku bawa seorang teman. I haven’t grew up well then. Aku menemukan matamu. Akhirnya, setelah berbulan-bulan berbayang layar ponsel sialan itu. Tak banyak yang kita bicarakan malam itu, hanya menonton film dan tertidur.

Agustus 2016,

Waktu berjalan sangat lambat rasanya, dia seolah membiarkan aku tersiksa didalamnya. Semakin lambat waktu berdetik, semakin perih rasa didadaku. Tiba-tiba saja aku tak mendapati lagi kabarmu setelah kepulanganku dari utara. Terlebih setelah kepulanganmu dari lautan lepas. Membiarkan rencana kita menganga hampa. Jangankan telepon, sebaris kalimat sapamu pun sudah menghilang dari rutinitas pagiku. Benar, aku tak mengerti. Aku tak tau apa yang terjadi padamu, pada kita. Impian-impian kita hancur berantakan, merasa ditinggalkan. Aku memburumu. Maafkan aku. Aku tak bermaksud begitu.

Hingga semalam aku akhirnya mendengar suaramu setelah lama kunanti. Tapi lagi-lagi aku kembali berurusan dengan kekecewaan. Rasanya begitu kuat menghantam ulu hati ketika aku mendengarmu berkata bahwa kau tak lagi menginginkan bersamaku. Kau mulai meragu setelah hari-hari yang kita lalui bersama. Bagitu saja, tanpa ada duka diantara aku dan kau sebelumnya, kau memilih untuk menyerah sekarang. Menyerah dan meninggalkan aku. Aku begitu terpukul. Rentetan perasaan datang berbondong-bondong, menjejali dadaku hingga tak karu2an. Andaikan duka adalah ruang yang dapat dibagi, aku akan mengajakmu serta. Merasakan apa yang telah kau putuskan untuk menyakitiku.

Kita terbang ke nirwana bersama, singgah sementara disana, namun hari ini aku terusir keluar dari nirwana. Sungguh sayang, egomu begitu luar biasa menyiksaku saat ini. Diantara rasa itu aku menyadari, bahwa rasa kecewa dan ketakutan adalah kombinasi rasa yang paling menyiksaku. Aku benar-benar kecewa terhadapmu, kau tak mampu menjaga keteguhan hatimu ketika kita jauh. Kau biarkan emosi-emosi liar tak bertuan mengambil kendali atas hatimu. Aku kecewa ketika segampang itu kau mempermainkan perasaanku. Aku kecewa terhadap diriku sendiri yang begitu percaya kepada mimpi kita. Aku kecewa terhadap diriku sendiri yang segampang itu memberikan seluruh hatiku padamu. Lalu lagi-lagi, aku kecewa kepadamu. Aku tak pernah mengira kau sampai hati menyakitiku.

Meski tertatih, aku menghormati keputusanmu. Perasaan adalah penuntun terbaik seorang manusia. Rasa adalah bagian paling hakiki dari setiap individu.

.

.

Sayang, aku tak sanggup lagi menuliskan kata padamu…….setiap kata yang tertuang hanya membuat hatiku makin sesak.

 

Advertisements

Visa dan Isi Koper

Membayangkan Norway yang ada hanya gelisah dan penasaran bercampur jadi satu. Informasi yang didapat minim, aku menemukan sebuah tautan dari PPI Norwegia…tapi itu ketika dijaman dr.Tarmidzi Taher jadi duta besar RI untuk Norwegia ditahun 2001 (http://www.geocities.ws/ppi_norwegia/profil.htm) 0_O.

Pusing bukan ? haha..tapi disitulah menariknya parnonya. Kita jadi semacam seorang pejuang, calon-calon pelajar di Norway harus siap dengan segala kemungkinan di lapangan, termasuk kemungkinan jadi satu-satunya mahasiswa Indonesia disana…#tsaah

Oh iya, di dalam cerita sebelumnya, kan aku bilang ada 2 buah email? Satu berisikan ttg LoA dan segala keperluan administratifnya, yang kedua isinya lebih kepada before coming to Oslo, termasuk link ke internasional student di grup facebook. Beruntungnya waktu itu, persis pas buka tautan itu, ada postingan baru seseorang dengan inisiatif yang luar biasa menanyakan asal mahasiswa dan jurusan yang akan di tempuh. Iseng, aku pun ikut serta menulis asalku dan jurusanku di UiO. Tak disangka, di tautan itulah, aku akhirnya menemukan 3 makhluk calon mahasiswa dari Indonesia juga. HAHAHA! Akhirnya saya ndak sendirian kesananya, terus terang, waktu itu lebih lega rasanya menemukan nama-nama Indonesia daripada nama calon teman sekelasku. rasanya kayak menemukan teman hidup begitu.. :p

Sebut saja mereka pak reja, mbak elin, dan kak win. Basa-basi sebentar di chat facebook, bikin WAG, lalu setali tiga uang ketemu juga dgn grup orang-orang Indonesia di FB, meski ndak banyak tapi mereka super baik-baik mau meladeni pertanyaan kitorang ini. Setelah ngobrol barang sebentar akhirnya kita sepakat untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya. Apakah itu..? Cekidot:

Dimulai dari Visa:

  • Pengurusan visa masuk ke Norwegia ndak susah cuma agak rumit. Buat aku rumit apalagi ketika tempat tinggalmu jauh dari hiruk pikuk ibukota dan segala kemudahan akses ke kedutaan besar negara tujuan.
  • Pembuatan visa masuk Norway tidak dilayani di kedutaan besar Norwegia untuk Indonesia lagsung, namun melalui sebuah agen bernama VFS Global (http://www.vfsglobal.com/norway/indonesia/) tapi emang kayaknya untuk saat ini hampir semua pembuatan visa ke eropa menggunakan jasa VFS ini.
  • Syaratnya bisa dilihat di website nya, kurang lebih ya paspor, ktp, kk, akta lahir, surat keterangan dari kampus beserta sumber pembiayaan, UDI, dan tenancy contract atau jaminan tempat tinggal selama di Norwegia.
  • Setelah menerima LoA dan mengkonfirmasi penerimaan di website kampus, maka selanjutnya adalah mendaftar ke UDI. UDI ini adalah sistem imigrasi dan kependudukan. Biayanya sekitar 2500 NOK sekitar hampir 5 juta rupiah. Form dari UDI ada beberapa lembar dan harus diisi. Lalu setelah mendapat konfirmasi dari UDI, berkas-berkas diikutsertakan didalam dokumen kelengkapan visa.
  • Untuk syarat legalisir akta lahir dan kartu keluarga cukup bikin saya ngos2an dl. Alasannya karena harus mampir ke penerjemah tersumpah dulu sebelum menuju ke Kementrian Hukum dan Ham lalu ke Kementrian Luar Negeri sebelum aman bersama dokumen lainnya di VFS.
  • Untuk teman-teman sekalian, terutama yang surat-suratnya perlu di legalisir di kantor pemda setempat, harap disiapkan baik-baik, dibaca berulang kali, jika ada yang perlu ditanyakan harap telepon ke pusat informasi di kantor tujuan dulu sebelum meninggalkan rumah. Ancaman bolak-balik karena tidak cermat dan mendadak bete itu sumpah bikin emosi kacau balau.
  • HINDARI CALO. Mudah memang, kita tinggal ongkang-ongkang kaki sambil ngopi di starbucks tapi jasa calo itu tidak sesuai undang-undang yang berlaku dan melukai ibu pertiwi yang ingin bangkit #tsaah.
  • Setelah semua dokumen lengkap akan ada jadwal untuk rekam biometri (sidik jari) untuk kelengkapan administrasi dokumen pribadi dan perjalanan.
  • Tunggu kira-kira 2-3 minggu lalu akan ada telepon dari Jakarta untuk konfirmasi bahwa visa / surat masuk kita telah selesai.
  • Ingat ini hanya surat ijin masuk ke Norwegia bukan surat ijin tinggal sementara.

Lanjut, setelah rempong dan harus ijin ke kantor selama seminggu, akhirnya semua berkas dan dokumen syarat-syarat itu selesai. sembari menunggu visa dan paspor kembali ke tangan, aku dan geng Oslo baru ini mulai siap-siap untuk mengisi koper, apa aja yang harus dipersiapkan dan dibawa. rumornya musim dingin di Oslo ini lebih parah daripada di eropa daratan (ini istilah kami untuk menggambarkan eropa dibawah Norwegia dipeta) hehe..

Komunikasi dengan senior-senior disana bilang bahwa kami ndak perlu beli jaket winter dari Indonesia di mangga dua, percuma katanya. ndak bakal kepakai karena masih terlalu tipis. Wah! Ini dia keseruan kedua, bayangin sedingin apakah Oslo..?! Lalu obrolan berlanjut ke isi koper yang dperlukan saja, ini dia list nya:

  • Obat-obatan pribadi semacam OBH, decolgen, tolak angin, panadol gt2, obat generik yang punya masa expired lama. karena, tipikal negara barat pada umumnya, susah dapet obat disana, masuk angin itu ndak exist, paling obatnya cuma disuruh istirahat atau dikasih paracetamol. dan lagi berobat di Norway itu….mahal bingit. Makanya kalo ndak kepaksa jangan sampe sakit.
  • Make Up! Ini penting buat kaum hawa, alasannya cuma satu. Di Norway lagi-lagi mahal. Kalo masalah toiletris, meskipun mahal tapi masih masuk akal, jadi toiletris ndak perlu berat-berat nyetok dari kampung halaman. kalo tetep nyetok sih namanya BERLEBIHAN.
  • Sepatu kets, bisa jadi opsi yang termasuk primer. Karena intensitas kita berpindah tempat dengan berjalan kaki cukup tinggi, maka sepatu kets jadi pilihan yang paling pas. Kenapa jadi isi koper yang primer, lagi..di Norway mahal.
  • Alat tulis, mau jadi mahasiswa kan ? Maka alat tulis jadi kebutuhan wajib juga. Emang disana ga ada ? Ya ada, tapi tau sendirilah alasannya kenapa nyetok dari rumah. hehehe..sekedar saran aja sih ini.
  • Sprei, (ini pendapatku pribadi) plis pertimbangkan bawa seprei sendiri. Ada IKEA memang di Oslo tapi untuk sprei yang pantas pakai (dalam hal ini adalah cukup tebal untuk membuat debu dari kasur ndak nempel ditubuh kita dan bikin gatel-gatel) bawalah sprei dari rumah, di IKEA yang harganya pas dikantong cuma ada yang tipis (lebih kepada alas kasur sih itu bukan sprei).
  • Baju seperlunya, kaos, sweater, itu aja sih. ndak perlu banyak-banyak juga. Situ mau kuliah apa mau fesyen show ? Tapi bener ndak perlu banyak2, wong kalo udah kelar summernya kamu ndak bakal ketauan ga pernah ganti kaos, ketutup sweater sama jaket mulu soalnya..other than that, semacam daleman di sana banyak dan anehnya ndak begitu mahal dibandingkan harga sabun. Jadi kesimpulannya, jarang mandi ndak papa tapi sering-seringlah ganti kancut!
  • Long John, banyak yang rekomen ini, tapi buat aku pribadi, ndak pernah aku pakai, toh survive melalui winter. Ingat yang penting jaket luar yang bener, makan yang didalam akan aman. #apasih
  • Yang ini penting disegala level (survei dari pak reja, bu elin, jeng win, dan saya):
    • Indomie
    • MSG segala rupa, yang merah sama kuning itu
    • Bumbu instan yang buat hidup jadi lebih gampang, plis bawa yang banyak seriusan.
    • BonCab
    • Kopi (ini opsi sih, buat yang suka ngopi aja, bawa kopi dari rumah, kopi Norway asem bet rasanya).
    • Rokok. Jangan tanya rokok disana mahalnya kayak apaan tau. Nyaris tobat ngrokok tuh orang-orang saking mahalnya, tapi yo akhirnya ndak jadi. Teori thok! :p
  • Sisa yang lain, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Begitulah, cerita kali ini adalah tentang visa dan isi koper, ada yang perlu ditanyakan lebih detail sila hubungi saya di ayudhira.pradati@gmail.com

Begitu.

Salam saya yang cerita ttg keberangkatan ke norway dari sudut perpustakaan yang sudah sepi dan rapelan ujian metodologi yang belom kelar TT_TT

Osl. 10 Dec 2014.

Norge 3 in 1

Hej,

Ini tulisan kedua di tanggal 9 Agustus 2014. Tadi pagi kita ke IKEA, tapi sebelum menulis tentang IKEA dan segala rupa tentang perjalanannya. Aku mau tulis tentang Norway dari tiga sisi yang menurutku menarik. Viking, Nature, dan Budaya Kontemporer. Norway menjadi menarik ketika melihat ke latarbelakang sejarahnya. Disebut sebagai salah satu punggawa Scandinavian countries bersama dua kerajaan lainnya yaitu Denmark dan Swedia, dan juga masuk ke dalam daftar Nordic countries (Denmark, Swedia, Finland, dan Iceland). Lalu apa itu Scandinavia dan apa yang membedakannya dengan Nordic?

Scandinavia merupakan sejarah dan budaya kuno yang turun di daratan eropa utara. Kultur skandinavia memiliki karakter turunan dari sebuah ethnocultural bangsa Jerman Utara atau yang sering disebut dengan North Germanic. Etimologi tentang sebutan ‘scandinavia’ erat hubungannya dengan catatan sejarah yang sering disebut Pliny the Elder. Didalamnya, Pliny bercerita tentang rute pembagian wilayah skandinavia yang dimulai dari deretan gunung Saevo (mons saevo ibi), teluk Codanus (Codanus Sinus), dan tanjung Cimbrian (the Cimbrian promontory). Saevo merupakan pegunungan yang ada di dalam wilayah pesisir Norwegian, pintu masuk menuju Skagerrak. Bahasa di ketiga kerajaan tersebut juga hampir mirip, meski tak sama. Bayangkan saja seperti Indonesia, Malaysia, dan Brunai Darrusalam. Sama-sama memiliki akar bahasa Melayu tapi berkembang menjadi bahasa yang lebih independen sesuai dengan karakter bangsanya. Begitu juga dengan bahasa yang digunakan oleh bangsa skandinavia, bahasa itu oleh Pliny disebut sebagai scandinavism. Sekilas memang terlihat berbeda, namun banyak memiliki kata dasar yang sama dengan bahasa Jerman dan Bavarian.

Nordics, well..bagian ini jujur saja aku juga kurang begitu memahami sampai khatam. Tapi yang pasti mengapa sampai ada istilah scandinavia dan nordic, hal itu didasarkan oleh perbedaan akar budaya. Tiga kerajaan Denmark, Norway, dan Swedia memiliki kultur budaya dan bahasa yang hampir mirip. Begitu juga dengan Finlandia dan Islandia, namun di kedua negara tersebut (Fin dan Iceland) menjadi agak sedikit rumit. dari sisi budaya bermasyarakatnya mirip namun dari sisi bahasa, sangat berbeda. Maka dari itu untuk ‘merangkum’ negara tetangga itu menjadi satu kesatuan yang lebih besar dan dengan kriteria yang lebih luas pula, bangsa Perancis pada saat itu datang menyelamatkan dan berkata  Pays Nordiques. Begitu sejarah singkatnya.

174733043 source: Dag Sundberg/Stockbyte/Getty Images

Apa itu Viking ?

Epitimologi kata Viking (víking) adalah berasal dari rumpun feminin. Linguistik dalam bahasa Norwegia juga terbagi menjadi dua gender maskulin dan feminin – meskipun pada prakteknya di dunia modern pembedaan gender ini tidak lagi digunakan- kembali ke arti kata viking. Feminin vík berarti teluk kecil, mengingat norway memiliki banyak sekali teluk-teluk kecil yang kemudian sering pula disebut dengan FJORD. Maka kemungkinan arti kata víking berasal dari pembedahan víken (atau víkin dalam bahasa Norwegia kuno). Yang artinya seseorang dari viken (seseorang dari teluk kecil). Bangsa viking berjaya di awal masa kerajaan kuno (medival) sekitar abad ke 8- 11.

Züge,_Landnahmen_und_Siedlungsgebiete_der_Nordmänner_-_800-1050.pngSource: Züge,_Landnahmen_und_Siedlungsgebiete_der_Nordmänner

Budaya bangsa viking ini berhubungan erat dengan perkembangan 3 kerajaan di scandinavia, Denmark, Swedia, dan Norwegia.Di awal abad ke 8, bangsa viking memulai perjalanannya menginvasi beberapa wilayah di eropa termasuk daratan Inggris.

Powered by Nature

Di awal tulisan mengenai kepindahan ke Oslo, sudah saya serahi link ke google images ttg Norway kan ? Gimana ? Udah dilihat ? Itulah mengapa aku nekat pergi ke Oslo. hehehe :p

Wilayah Norwegia yang terhubung diantara pegunungan yang menjulang dan cekungan-cekungan indah didalamnya menjadi satu keuntungan besar untuk negara yang populasinya hampir hanya setengah dari populasi keseluruhan warga DKI Jakarta. Norway punya sekitar 5 juta orang, Jakarta punya 9.6 juta orang. Masa ? Ga percaya ?? Cek disini https://www.ssb.no/en/befolkning/artikler-og-publikasjoner/this-is-norway-2016 dan disini http://population.city/indonesia/jakarta/

en, to, tre, fire, fem, seks…..

Gimana, udah dicek ? bener ga ? udah jangan kelamaan mangap.

Fjord; diantara hamparan pegunungan itu banyak banget lembah atau orang norway biasa nyebut itu dengan sebutan fjord, lalu apa itu fjord ? check it here aja yah » http://www.fjords.com/what-is-a-fjord.shtml

  • Geirangerfjord, letaknya ada di daerah bernama Sunnmøre, Norway.
  • dan puluhan fjord lainnya, sila dicheck di https://www.visitnorway.com

Aurora Borealis; pertunjukan cahaya di kutub utara dan selatan bumi. Adanya aurora diakibatkan oleh pertukaran aliran partikel listrik yang bersumber dari matahari kemudian ditarik oleh magnet bumi yang di kutub utara maupun selatan lalu memasuki atmosfer bumi. Ketika partikel tersebut memasuki armosfer lalu terjadilah tabrakan dengan gas seperti oksigen dan nitrogen. Sebetulnya aurora terlihat sepanjang tahun, namun karena sudut kemiringan rotasi bumi pada saat musim dingin akan menjadikan bumi bagian utara menjadi gelap, maka di musim itulah saat yang tepat untuk menyaksikan aurora borealis. Aurora ini ada forecast nya juga lho » http://norway-lights.com/

Tempat teroke untuk melihatnya adalah sbb:

  • Tromsø
  • The Lofoten Island
  • Alta
  • Bodø
  • Harstad
  • etc (end of thinking capacity)

Budaya dan Seni Kontemporer

Siapa yang ndak tau lukisan Edvard Munch yang judulnya Scream ? Yap yang dibawah ini:

the-scream.jpgSource: http://www.edvardmunch.org/the-scream.jsp

Lukisan ini pernah juga menjadi ide serial kartun populer asal negeri sakura, Detektif Conan. Pasti semua pernah liat atau paling tidak merasa tidak asing dengan lukisan ini kan ? Tapi pasti rata-rata ndak tau bahwa si empunya ini adalah orang German yang menghasilkan lukisan ini selama beliau tinggal di Norway dan lukisan aslinya disimpan di dalam salah satu museum dan galeri seni di Oslo. Pelukis bergaya expresionism tahun 1893an ini bernama Edvard Munch, nama yang sama dilabelkan pada museum yang menyimpan karya lukisnya. Ada banyak variasi didalamnya, ada yang dilukis menggunakan cat minyak, krayon, pensil biasa, bahkan darah. Masing-masing tentu saja memiliki latar belakang yang menarik sesuai dengan suasana hati si pelukis. (http://munchmuseet.no/en/)

Ada lagi seni kontemporer yang cukup terkenal di dunia, yaitu taman patung telanjang atau Vigelandsparken. Dihasilkan lewat tangan seorang pemahat batu bernama Gustav Vigelands pada tahun 1934.

dsc01195

Gambar diatas merupakan salah satu karya Vigelands yang ada di taman patung telanjang. Kok taman patung telanjang ? Haha, karena semua patungnya dipahat naturally. sila berkunjung ke http://www.vigeland.museum.no/no/vigelandsparken

dan masih banyak lagi lainnya. Kalo ditulis dan direview satu-satu di blog ini nanti takut kalo saya direkrut jadi pegawe visitnorway.no hehehe…

so, ha det bra, vi ses!

Osl. 9 Agustus 2014

 

Velkommen til Norge!

Selamat Datang di Norwegia!

Tiga minggu pas setelah meninggalkan segala macam dokumen itu di kantor VFS, lalu aku ingat betul jam makan siang dikantor ada telpon dari Jakarta. Tapi aku lupa entah dari VFS atau dari kedutaan besar Norwegia yang menelpon, anyway suara ibu-ibu itu terdengar menyenangkan, tipikal ibu-ibu senior yang gemar bercerita dengan ceria. Dia bertanya, kapan mau berangkat ? Ada satu kolom yang belum aku isi ternyata, ttg tanggal keberangkatan. Tapi aku kala itu sudah bersepakat dengan geng Oslo baruku itu kita mau berangkat bareng tanggal 7 Agustus 2014. Si ibu bilang oh ya sudah, kalo gitu pas. Oh iya, FYI, visa yang dberikan untukku dan teman-teman itu ijin masuk, jadi hanya berlaku seminggu saja. Yang penting kita ndak terdampar di emperan loket imigrasi di Oslo sana nantinya.

Lalu bersama kita berangkat naik Qatar Airways, yang waktu itu adalah flight paling mure dari Jakarta-Oslo. Eh tapi bener lho, aku 8 kali pp Oslo-Jakarta, Jakarta-Oslo pake Qatar terus yang paling murah memang. Setelah sempat transit di Doha, Qatar semalam akhirnya perjalanan 16 jam itu tuntas sudah. Kalau ga salah waktu itu siang hari, kita sampai di Gardemoen Airport, gerbang masuk ke Norwegia..wuhuuu nyampeee!! Tapi masih panjang jalan. Lihat papan ‘Velkommen til Norge’ di atas tulisan passport check itu rasanya gimana gitu. Seneng juga akhirnya bisa nyampe. Deg-degan juga apa yang ada di luar bandara ini, makan apa nnt, rumah kayak gimana bentuknya, kampus gmn, dan berjuta pertanyaan dengan kata pertama -GIMANA-, termasuk gimana kalo nnt visa aku ditolak ? #lebay

Singkat cerita (akhirnya visa ndak dtolak, dapet cap masuk bebas melangkah), kita keluar. Biasa aja si bandaranya, cuma ya karena Norway, jadinya tiba-tiba ada nuansa viking nya. Kelar ngumpulin koper, kita berempat persis kayak anak ayam kehilangan induknya. Belom ada yang pernah ke Norway dan haha, sejujurnya kita hilang arah. Mau ngapain dulu juga bingung. Setelah ngumpulin napas dan switch bahasa, kita sepakat mau nuker uang dulu dari dollar amerika ke norwegian kroner. loketnya ada di depan pintu keluar persis. Habis itu kita beli tiket kereta cepet ke kota, namanya Flytoget (duh jadi kangen!). Harganya untuk student 90kr, yang reguler jurusan bandara-sentrum 180kr jadi yang buat student bisa 50% lebih murah* (cek di http://flytoget.no/). Kereta ini per 10 menit jadi jangan khawatir bakal telat banget kalo ada acara.

Lalu, jeng jeng…20 menit kemudian kita sampai!

Janjian sama mahasiswa Indonesia yang udah senior disana, namanya mas adhi dan mbak indri yang berbaik hati jadi induk ayam buat kita yang udah mulai lelah. udah gitu kita ternyata kudu beli lagi kartu bulanan buat moda transportasi di kota.** Yo wis beli dulu. Setelah dapet kartu kita lalu menuju ke kantor dimana kita mau ngambil kunci kamar kosan di Oslo***. Dari bandara ke sentrum turun di stasiun utama Oslo, Oslo S (sentralstasjon). Habis gitu kalo mau kemana-mana di dalam kota, ada moda transportasi laen. Kita lalu naik metro, namanya Tbane.

Menuju rumah…

Lokasi tempat tinggalku ada di tempat yang menyenangkan. Ga kebayang, bayanganku masih aja kayak tempat tinggalku waktu di Belanda, ditengah-tengah kompleks perumahaan gt. Tapi ternyata…(see picture below)

20140809_065329

Asyik yekan ? Hahaha..alamatnya cukup unik juga, ye benernya unik karena penulisannya beda gt aja sama alamat kita di Indonesia. Diambil menit pertama masuk di kamar lantai 5 menghadap ke utara, belakangnya bukit gitu coba alamatnya di Kringsjå Studentby-Korsvoll, Oslo 0864. sorry tapi nomer kamar dan gedung dirahasiaken, demi kemaslahatan umat 🙂

Kayaknya sekian dulu, sa mau lanjut bongkar-bongkar koper.

Osl. 9 Agustus 2014. Diatas meja belajar.

PS: *, **, ***, NEXT in Liv i Norge (udah begaya pake bahasa norsk, padahal juga cuma googling barusan)

UiO, Quota Scheme, dan Galau

Tau Norwegia ?

Sering dengar tapi minim pengetahuan tentang negara itu. Haha, sama! Aku pun begitu. Dulu sebelum berangkat ke negeri salmon, aku tak tahu bahwasanya Norwegia begitu mempesona. Iyakah ? Mari kita buktikan.

Pilpres 2014, selepas magrib, aku buka email, niatku hanya ingin mempersiapkan presentasi untuk pekerjaanku esok hari. Aku menemukan dua buah email, si empunya email menuliskan subject yang bikin meriang “Letter of Admission”…apakah ini artinya…??!!

Yap, Puji Tuhan, Alhamdulillah lamaran melanjutkan sekolah pasca sarjana di Universitetet i Oslo selangkah lagi menjadi kenyataan. Yang buat bikin happy karena akupun dianugerahi beasiswa oleh pemerintah Norwegia, namanya Quota Scheme. Jadi, tak perlu pusing untuk mencari funding sendiri. Alhamdulillah. Senang tak karuan rasanya.

Lalu mengapa UiO ? Mengapa Norwegia ? Mengapa seakan-akan melupakan LoA dari Belanda dan tiba-tiba pindah haluan ke Norwegia?

Alasannya banyak! Jangan dikira aku ndak ada acara galau dan sempat berfikir untuk ndak jadi berangkat ke Norway. Pertama begini, kampus tempat dimana masa ambil essatu dan juga menjadi tempat mencari rejeki sementara ini memiliki skema kerjasama dengan universitas di Norwegia, salah satunya dengan UiO (Universitetet i Oslo), kala itu aku banyak mendapat dukungan dan ‘dijual’ secara politik oleh kampus untuk berangkat saja ke Oslo. Ya sudah, pertimbangan karir, akhirnya centang pertama (√).

Kedua, beasiswa sudah satu paket. Sebelum mendaftar di UiO, 7 aplikasi sekolah dan beasiswa sudah aku kirimkan. 4 di daratan Inggris (Bournemouth University, Surrey University, Leeds Metropolitan University, dan Manchester University), 1 di Skotlandia (Glasgow University), 2 di Belanda (Wageningen University dan Rijkuniversiteit Groningen). Terakhir, ini betul-betul terakhir, setelah selesai dengan 7 aplikasi, lalu terbitlah informasi mengenai keberadaan Universitetet i Oslo beserta skema beasiswa pemerintahnya. Berbekal informasi yang ada, dikirimkanlah lamaran ke delapan. Melalui DHL, pengiriman dokumen yang kala itu dhargai Rp 500.000,- meluncur ke Norwegia. Sedikit menyombong, lamaran sekolah di ketujuh universitas tsb, 6 diantara nya mulus. LoA meluncur melalui email pribadi. 1 gagal adalah lamaran di Leeds Metropolitan University, di Inggris. Hampir semua pengumuman LoA itu aku terima akhir tahun. PR selanjutnya adalah mencari beasiswa, krn di Inggris aku dapat beasiswa namun hanya sebatas pengurangan 50% dari tuition fee. Sisanya aku cari sendiri, lalu melamarlah aku kepada lembaga-lembaga beasiswa, sbb: Ford Foundation, Tanoto Foundation, Chevening, Dikti, dan StuNed. Hasilnya, semuanya NIHIL.

Belum patah arang, Februari 2014, aplikasi LPDP dengan mencantumkan LoA dari Wageningen University dimulai. Lolos dokumen, saatnya sesi wawancara, aku dapat di bulan April tanggal 14 tahun 2014. Namun, di tanggal 9 April semua berubah. Datangnya email dari UiO membuat pertimbangan disusun kembali. Yang paling menguntungkan adalah aku tak perlu mencari biaya tambahan untuk sekolah disana. Karena aplikasi ke UiO aku ajukan beserta dengan beasiswanya. (√)

Ketiga, have you seen Norway in google images ? If you haven’t seen them, go check it first before read the rest of my blog (here https://www.google.com/search?q=Norway&client=firefox-b&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjm1ZvMyZjRAhURR48KHVuMDCEQ_AUICigD ) now you see it, how do you think ? Go or denied it ? (√)

Keempat, betul juga ketika teman baikku bilang, go and try to stay on something that you have not been experienced yet. You’ll be coming back with another point view. Poin nya adalah, Norway bukan tujuan populer mahasiswa Indonesia untuk lanjut kuliah, mungkin dengan itu aku bisa menjadi satu dari beberapa orang yang punya sudut pandang dan cerita lain tentang sekolah di luar negeri, tidak melulu Belanda, Inggris, dan Amerika. (√)

Sudah 4-0 untuk centang didaftar pro, list kontra masih kosong.

Kontra atau lebih tepatnya disebut dengan faktor kegalauan yang membuat Norway nyaris ditinggalkan adalah rasa tetap maunya Belanda, selain karena punya sanak saudara disana, 2 teman baikku juga tinggal disana, satu orang lagi adalah mantan kekesihku dulu. Membayangkan tinggal dluar Belanda kesannya jadi sedikit menakutkan. Sendirian dan asing. Apalagi Norway yang jumlah orang Indonesianya ndak ketauan berapa orang. Itulah alasan di kontra, cukup panjang tapi tidak cukup masuk akal untuk menjadi titik berat.

Setelah menimbang dengan cermat, bertanya sana sini terutama ke keluarga, teman-teman senior, ya sudah, dengan mengucap bismilah- akhirnya diputuskan untuk disudahi saja kegalauan itu. Berangkatlah kau ke Norwegia, menerima UiO dan beasiswanya sebagai pendamping hidup selama 2 tahun kedepan dalam suka dan duka..

#eh

Jogjakarta, selasar timur kampus biru.

19 Juli 2014

Next: Persiapan keberangkatan….

Mari Galakkan KKN!

Stasiun Lempuyangan, Jogja.
Tanggal 9 Juli 2009, jam setengah tujuh pagi.

Anak 3 orang anak gadis; aku, simbah bledeg, dan cik ria melangkah gontai masuk lewat gerbang sebelah selatan stasiun. 3 orang bawaannya bejibun, 3 koper, 1 tas jinjing, dan 3 tas ransel. Pagi betul sudah nongkrong di stasiun. Tebak kita mau ngapain ?

Nungguin kerabat kerja KKN atau yang sering dipanjangkan sebagai Kuliah Kerja Nyata cabang UGM tahun angkatan 2009. Aku dan 22 orang lainnya akan melaksanakan kegiatan yang merupakan bagian paling kece namun sekaligus merepotkan ini di sebuah desa terpencil di pesisir utara pulau lombok. Walaupun cuma ngumpulin 3 sks, tapi semangat kami ini bisa diadu lho. Naik kereta api ekonomi hasil minta diskon ke PT KAI yang berbaik hati menyeseponsori perjalanan kami yang luar biasa ini.

Hah ? Kereta api ? emang ada kereta sampai NTB ?
Ya enggaklah…

Begini rutenya, dari lokasi kami di Kecamatan Depok, Kotamadya Jogjakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selanjutnya akan menempuh perjalanan panjang kurang lebih 16 jam diatas kereta api ekonomi sampai di stasiun Banyuwangi, stasiun yang terletak di ujung timur pulau jawa. Sampai di stasiun itu nyebrang kira-kira 50 meter udah sampai di pelabuhan ketapang, lalu rencananya naik bis membelah pulau bali sampai pelabuhan lembar, nyebrang lagi, sampai deh di lombok. Terlihat mudah dan menyenangkan bukan ? *tertawa*

Sebetulnya…lebih tepat dikatakan kurang kerjaan.

Well, singkatnya aku akan bercerita sedikit tentang asal mula perjalanan ini akhirnya bisa tercapai. Sekitar akhir tahun 2008 aku berserta beberapa tim peneliti dari sebuah kantor yang bergerak dalam bidang wisata di bawah naungan Universitas Gadjah Mada (PUSPAR) berangkat menuju ke desa Sugian itu. Kala itu misi yang kita bawa adalah pelatihan intrepreter terhadap warga desa setempat istilahnya adalah mengajak masyarakat sadar tentang potensi wisata yang ada di desa mereka. Oh iya, desa Sugian ini merupakan salah satu pintu masuk Gili Sulat dan Gili Lawang, Gili artinya adalah sebuah pulau dalam bahasa Sasak, dua pulau ini sdang di perjuangakan untuk menjadi desa wisata oleh Departemen Pariwisata. Keindahannya bisa di lihat dari banyaknya terumbu karang yang masih bagus, masih tak tersentuh oleh tangan manusia, walaupun di sisi lainnya ada yang rusak karena bom ikan. Pulau Gili Sulat dan Gili Lawang memiliki luas wilayah masing-masing 694 ha dan 483 ha dan terletak disebelah Timur dari pusat Kecamatan Sambelia. Kedua pulau tersebut merupakan kawasan hutan lindung yang berupa hutan mangrove.

Meskipun memiliki pemandangan yang alami dan impresif. Kedua pulau ini seperti yang telah dikatakan di atas, masih belum dapat dikenal sebagai lokasi wisata. Padahal desa ini benar-benar mampu di kembangkan dengan beberapa potensi yang dimilikinya, yang berupa pantai berpasir putih, terumbu karang, hutan manggrove, suasana asri dan tenang desa nya. Memasuki jalanan di kecamatan Sambelia, kira-kira tepat sehabis melewati kantor kecamatan Sambelia, kita akan masuk kedalam sebuah jalanan antar provinsi yang di kanan kirinya masih berupa hutan, banyak monyet disana. Bergelantungan dan berada di pinggir jalan, memasuki desa Sugian kita akan menemukan suasana pedesaan yang masih asli, dan kemudian ketika kita memasuki wilayah kedua pulau ini, kita akan disambut oleh panorama alam yang luar biasa indah dengan hamparan hutan mangrove yang menutupi hampir semua pulau serta kicauan burung aneka suara dan warna. Berdiri tepat di dermaga di ujung pulau ini, kita bisa melihat karang-karang lewat jernihnya air laut-nya. Aku berada di desa ini selama 4 hari. Kemudian aku pulang kembali ke Jogja dan menceritakan pengalaman aku kepada beberapa temanku di kampus. Singkatnya, dan entah bagaimana itu terjadinya. Akhirnya kami berminat dan memutuskan untuk mengadakan program KKN di sana, di desa Sugian. Hingga terkumpullah ke 23 mahasiswa dari berbagai prodi dan bersama-sama berniat tulus untuk ber-KKN disana. Sebut saja Akbar, Meimmy, Ita, Anne, Mbak Tiwi, Ria, Thia, Stanislaus ‘Gempil’, Hari ‘Kiting’, Dunan, Zulfi ‘Fani’, Frenky, Dira, Ayik, Laras, Reta ‘Mbah Bledeg’, Ipunk ‘Paijo’, Ardi ‘Gareng’, Zuliandi ‘Teyeng’, Paul, Adel ‘Panda’, Ardi ‘Tatang’, Bayu, dan seorang dosen pembimbing kami Mas Sulhan.

Jam 7.30 pagi akhirnya kereta kencana ekonomi itu berangkat perlahan meninggalkan Jogja, roda berderak-derak mengiringi perjalanan kami. Celoteh dan obrolan kami masih menghiasi suasana gerbong ke 2 dari belakang. Kereta Api Sri Tandjung sepertinya baru kali ini mengangkut segerombolan anak-anak yang cerewet, tenang hanya ketika tertidur, bawaannya bejibun dan gila foto. Menjelang siang, setelah berhenti beberapa saat di beberapa stasiun, makin bertambalah pula orang-orang yang bergabung dengan kami dengan tujuan mereka masing-masing.

Penuhnya kereta, manusia berjejal gak karu2an, bawa diri aja susah apalagi ini bawa2 ayam. Untuk meluruskan kaki saja harus berhati-hati, salah-salah menendang kepala orang yang tidur di lantai. Lalu panggilan alam menghantui aku, sepertinya toilet di ujung gerbong itu benar-benar menarik untuk di kunjungi, tapi perjalanan kesananya yang sepertinya membuatku mengurungkan niatku. Setelah 15 menit berlalu, akhirnya kubulatkan niat mengarungi beberapa tangan manusia yang terjulur dari tubuh mereka karena mereka tak dapat tempat duduk, menghindari menginjak kaki orang yang berdesak-desakan. Dan bahkan manuver diri ketika seorang penjual nasi tak tahu sopan santun dengan asal menggoyangkan baki jualannya di udara. Kalo tak sigap, kepala kita bisa jadi korban. Sampai didepan kamar mandi, tiba-tiba seorang bapak mencolek bahuku, aku menoleh dengan gream. Tapi bapak itu hanya berbaik hati dan memperingatkaku, kata dia pintu itu tak ada kuncinya, jadi aku di suruh memanggil seorang teman untuk memegang pintu kamar mandi itu. Celakanya, diantara berjubelnya manusia di gerbong ini, tak ada satupun temanku yang sadar aku memanggil mereka. Akhirnya aku kembali lagi berjalan ke tempat dudukku dan menyeret seorang teman kembali lagi dan melewati ‘perjalanan’ ke kamar mandi.

dwdpkfxsInilah penampakan rombongan srimulat didalam Sri Tandjung

Jam 11 malam kereta itu berhenti di stasiun tujuan kami di Banyuwangi, rame-rame turun dengan segala perasaan bete belom mandi dan capeknya Tuhan…., masih harus memanggul tas yang begitu berat. Rasanya beban mental kami terus di uji, kami harus menunjukkan ‘pertanggungjawaban’ kami atas apa yang telah kami putuskan dan sepakati bersama, melewati perjalanan dengan ‘hemat’ dan berestafet. Ngeri membayangkan perjalanan itu tadinya, ngeri dengan segala resiko yang harus kami waspadai. Tapi rasa itu pelan-pelan terkubur jauh ketika aku meilhat teman-temanku, aku benar-benar bangga terhadap teman-temanku yang terus menjaga sikap saling sopan disisa-sisa tenaga kami demi kelancaran perjalanan ini tak ada keluh kesah keluar di antara mulut-mulut mereka. Kami meninggalkan stasiun menuju pelabuhan Ketapang yang berjarak 10 menit dengan berjalan kaki, rasanya berat sudah kaki ini melangkah, punggung ini sakit karena beban yang aku bawa. Tapi aku sadar kami semua mengalami hal yang sama, akhirnya kami hanya bercanda sepanjang jalan dan santai sajalah..

Akhirnya jam 12 WIB kami meninggalkan pulau Jawa, menyebrang menuju Pulau Bali dengan sebuah kapal Ferry. Satu jam terombang ambing di laut, mengisi perut sedikit dengan beberapa makanan yang di jajakan di atas kapal. Akirnya kami turun juga di Pulau Bali, dan lagi kami harus berjalan keluar dari pelabuhan dan mencari sebuah kendaraan untuk menyebrangi pulau Bali selama lima jam sampai akhirnya sampai di pelabuhan Padang Bai. Bis yang kami tumpangi hanya bis kota kecil dan terlihat lebih sempit dengan bawaan tas-tas kami. Di bis itu hampir semua teman tertidur apalagi teman di sebelah ku ini..pingsan sepertinya malah. Tak semenitpun dia terbangun, sampai akhirnya matahari pagilah yang membangunkannya. Aku tak bisa tidur, hanya beberapa kali tertidur tapi kemudian terbangun lagi. Dan lagi, kami menyebrang menuju ke pulau Lombok. Perjalanan 4 jam kami habiskan untuk mengarungi selat Lombok ini. Kesempatan bagus untuk beristirahat dan meluruskan kaki. Dengan menguasai satu sisi ruang kapal oleh barang-barang kami, agak leluasa untuk kami meluruskan kaki.

Sampai, dan lagi, kami masih harus menuju ke desa tersebut. Saat itu pukul 1 WITA kami menginjakkan kaki di pulau Lombok. Naik angkutan umum berjenis L300, kami masih harus berdesak-desakkan sampai 3 jam, dan akhirnya kami melihat pemandangan gersang dan beberapa mil kemudian melihat pesisir pantai yang mulai terlihat jelas, tanda bahwa tak lama lagi kami akan sampai ketempat tujuan kami. (beberapa di antara kami sempat mengadakan survei ke lokasi ini).

Yang tertidur terbangun, yang melamun kembali fokus, betapa mereka terpesona dengan pemandangan ini. Betapa jelas tergambar di wajah mereka, tak sia-sia datang dengan beban yang begitu berat ketika melihat pemandangan yang mempesona ini. Tiba-tiba tergambar jelas di wajah mereka betapa letihnya mereka. Tapi senyuman itu masih menghiasi muka mereka dengan ceria. Semakin ceria ketika mobil sudah masuk ke gapura desa, seorang warga menyambut kami setengah berteriak “Selamat Datang KKN….” cengiran bangga dan terharu nampak di beberapa muka teman-teman ku ini….
Terima kasih teman atas kerjasamanya, semoga kita bisa bertahan bersama sebagai sebuah keluarga baru disini, di desa Sugian ini selama 2 bulan kedepan…..

1936898_1179822220800_1276895_nrombongan komunikasi 2006 habis upacara pelepasan KKN

kamar tamu rumah Bik Nur,
12 Juli 2009
Dusun Tekalok, Desa Sugian, Nusa Tenggara Barat..10.15 pm.