Mari Galakkan KKN!

Stasiun Lempuyangan, Jogja.
Tanggal 9 Juli 2009, jam setengah tujuh pagi.

Anak 3 orang anak gadis; aku, simbah bledeg, dan cik ria melangkah gontai masuk lewat gerbang sebelah selatan stasiun. 3 orang bawaannya bejibun, 3 koper, 1 tas jinjing, dan 3 tas ransel. Pagi betul sudah nongkrong di stasiun. Tebak kita mau ngapain ?

Nungguin kerabat kerja KKN atau yang sering dipanjangkan sebagai Kuliah Kerja Nyata cabang UGM tahun angkatan 2009. Aku dan 22 orang lainnya akan melaksanakan kegiatan yang merupakan bagian paling kece namun sekaligus merepotkan ini di sebuah desa terpencil di pesisir utara pulau lombok. Walaupun cuma ngumpulin 3 sks, tapi semangat kami ini bisa diadu lho. Naik kereta api ekonomi hasil minta diskon ke PT KAI yang berbaik hati menyeseponsori perjalanan kami yang luar biasa ini.

Hah ? Kereta api ? emang ada kereta sampai NTB ?
Ya enggaklah…

Begini rutenya, dari lokasi kami di Kecamatan Depok, Kotamadya Jogjakarta, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta selanjutnya akan menempuh perjalanan panjang kurang lebih 16 jam diatas kereta api ekonomi sampai di stasiun Banyuwangi, stasiun yang terletak di ujung timur pulau jawa. Sampai di stasiun itu nyebrang kira-kira 50 meter udah sampai di pelabuhan ketapang, lalu rencananya naik bis membelah pulau bali sampai pelabuhan lembar, nyebrang lagi, sampai deh di lombok. Terlihat mudah dan menyenangkan bukan ? *tertawa*

Sebetulnya…lebih tepat dikatakan kurang kerjaan.

Well, singkatnya aku akan bercerita sedikit tentang asal mula perjalanan ini akhirnya bisa tercapai. Sekitar akhir tahun 2008 aku berserta beberapa tim peneliti dari sebuah kantor yang bergerak dalam bidang wisata di bawah naungan Universitas Gadjah Mada (PUSPAR) berangkat menuju ke desa Sugian itu. Kala itu misi yang kita bawa adalah pelatihan intrepreter terhadap warga desa setempat istilahnya adalah mengajak masyarakat sadar tentang potensi wisata yang ada di desa mereka. Oh iya, desa Sugian ini merupakan salah satu pintu masuk Gili Sulat dan Gili Lawang, Gili artinya adalah sebuah pulau dalam bahasa Sasak, dua pulau ini sdang di perjuangakan untuk menjadi desa wisata oleh Departemen Pariwisata. Keindahannya bisa di lihat dari banyaknya terumbu karang yang masih bagus, masih tak tersentuh oleh tangan manusia, walaupun di sisi lainnya ada yang rusak karena bom ikan. Pulau Gili Sulat dan Gili Lawang memiliki luas wilayah masing-masing 694 ha dan 483 ha dan terletak disebelah Timur dari pusat Kecamatan Sambelia. Kedua pulau tersebut merupakan kawasan hutan lindung yang berupa hutan mangrove.

Meskipun memiliki pemandangan yang alami dan impresif. Kedua pulau ini seperti yang telah dikatakan di atas, masih belum dapat dikenal sebagai lokasi wisata. Padahal desa ini benar-benar mampu di kembangkan dengan beberapa potensi yang dimilikinya, yang berupa pantai berpasir putih, terumbu karang, hutan manggrove, suasana asri dan tenang desa nya. Memasuki jalanan di kecamatan Sambelia, kira-kira tepat sehabis melewati kantor kecamatan Sambelia, kita akan masuk kedalam sebuah jalanan antar provinsi yang di kanan kirinya masih berupa hutan, banyak monyet disana. Bergelantungan dan berada di pinggir jalan, memasuki desa Sugian kita akan menemukan suasana pedesaan yang masih asli, dan kemudian ketika kita memasuki wilayah kedua pulau ini, kita akan disambut oleh panorama alam yang luar biasa indah dengan hamparan hutan mangrove yang menutupi hampir semua pulau serta kicauan burung aneka suara dan warna. Berdiri tepat di dermaga di ujung pulau ini, kita bisa melihat karang-karang lewat jernihnya air laut-nya. Aku berada di desa ini selama 4 hari. Kemudian aku pulang kembali ke Jogja dan menceritakan pengalaman aku kepada beberapa temanku di kampus. Singkatnya, dan entah bagaimana itu terjadinya. Akhirnya kami berminat dan memutuskan untuk mengadakan program KKN di sana, di desa Sugian. Hingga terkumpullah ke 23 mahasiswa dari berbagai prodi dan bersama-sama berniat tulus untuk ber-KKN disana. Sebut saja Akbar, Meimmy, Ita, Anne, Mbak Tiwi, Ria, Thia, Stanislaus ‘Gempil’, Hari ‘Kiting’, Dunan, Zulfi ‘Fani’, Frenky, Dira, Ayik, Laras, Reta ‘Mbah Bledeg’, Ipunk ‘Paijo’, Ardi ‘Gareng’, Zuliandi ‘Teyeng’, Paul, Adel ‘Panda’, Ardi ‘Tatang’, Bayu, dan seorang dosen pembimbing kami Mas Sulhan.

Jam 7.30 pagi akhirnya kereta kencana ekonomi itu berangkat perlahan meninggalkan Jogja, roda berderak-derak mengiringi perjalanan kami. Celoteh dan obrolan kami masih menghiasi suasana gerbong ke 2 dari belakang. Kereta Api Sri Tandjung sepertinya baru kali ini mengangkut segerombolan anak-anak yang cerewet, tenang hanya ketika tertidur, bawaannya bejibun dan gila foto. Menjelang siang, setelah berhenti beberapa saat di beberapa stasiun, makin bertambalah pula orang-orang yang bergabung dengan kami dengan tujuan mereka masing-masing.

Penuhnya kereta, manusia berjejal gak karu2an, bawa diri aja susah apalagi ini bawa2 ayam. Untuk meluruskan kaki saja harus berhati-hati, salah-salah menendang kepala orang yang tidur di lantai. Lalu panggilan alam menghantui aku, sepertinya toilet di ujung gerbong itu benar-benar menarik untuk di kunjungi, tapi perjalanan kesananya yang sepertinya membuatku mengurungkan niatku. Setelah 15 menit berlalu, akhirnya kubulatkan niat mengarungi beberapa tangan manusia yang terjulur dari tubuh mereka karena mereka tak dapat tempat duduk, menghindari menginjak kaki orang yang berdesak-desakan. Dan bahkan manuver diri ketika seorang penjual nasi tak tahu sopan santun dengan asal menggoyangkan baki jualannya di udara. Kalo tak sigap, kepala kita bisa jadi korban. Sampai didepan kamar mandi, tiba-tiba seorang bapak mencolek bahuku, aku menoleh dengan gream. Tapi bapak itu hanya berbaik hati dan memperingatkaku, kata dia pintu itu tak ada kuncinya, jadi aku di suruh memanggil seorang teman untuk memegang pintu kamar mandi itu. Celakanya, diantara berjubelnya manusia di gerbong ini, tak ada satupun temanku yang sadar aku memanggil mereka. Akhirnya aku kembali lagi berjalan ke tempat dudukku dan menyeret seorang teman kembali lagi dan melewati ‘perjalanan’ ke kamar mandi.

dwdpkfxsInilah penampakan rombongan srimulat didalam Sri Tandjung

Jam 11 malam kereta itu berhenti di stasiun tujuan kami di Banyuwangi, rame-rame turun dengan segala perasaan bete belom mandi dan capeknya Tuhan…., masih harus memanggul tas yang begitu berat. Rasanya beban mental kami terus di uji, kami harus menunjukkan ‘pertanggungjawaban’ kami atas apa yang telah kami putuskan dan sepakati bersama, melewati perjalanan dengan ‘hemat’ dan berestafet. Ngeri membayangkan perjalanan itu tadinya, ngeri dengan segala resiko yang harus kami waspadai. Tapi rasa itu pelan-pelan terkubur jauh ketika aku meilhat teman-temanku, aku benar-benar bangga terhadap teman-temanku yang terus menjaga sikap saling sopan disisa-sisa tenaga kami demi kelancaran perjalanan ini tak ada keluh kesah keluar di antara mulut-mulut mereka. Kami meninggalkan stasiun menuju pelabuhan Ketapang yang berjarak 10 menit dengan berjalan kaki, rasanya berat sudah kaki ini melangkah, punggung ini sakit karena beban yang aku bawa. Tapi aku sadar kami semua mengalami hal yang sama, akhirnya kami hanya bercanda sepanjang jalan dan santai sajalah..

Akhirnya jam 12 WIB kami meninggalkan pulau Jawa, menyebrang menuju Pulau Bali dengan sebuah kapal Ferry. Satu jam terombang ambing di laut, mengisi perut sedikit dengan beberapa makanan yang di jajakan di atas kapal. Akirnya kami turun juga di Pulau Bali, dan lagi kami harus berjalan keluar dari pelabuhan dan mencari sebuah kendaraan untuk menyebrangi pulau Bali selama lima jam sampai akhirnya sampai di pelabuhan Padang Bai. Bis yang kami tumpangi hanya bis kota kecil dan terlihat lebih sempit dengan bawaan tas-tas kami. Di bis itu hampir semua teman tertidur apalagi teman di sebelah ku ini..pingsan sepertinya malah. Tak semenitpun dia terbangun, sampai akhirnya matahari pagilah yang membangunkannya. Aku tak bisa tidur, hanya beberapa kali tertidur tapi kemudian terbangun lagi. Dan lagi, kami menyebrang menuju ke pulau Lombok. Perjalanan 4 jam kami habiskan untuk mengarungi selat Lombok ini. Kesempatan bagus untuk beristirahat dan meluruskan kaki. Dengan menguasai satu sisi ruang kapal oleh barang-barang kami, agak leluasa untuk kami meluruskan kaki.

Sampai, dan lagi, kami masih harus menuju ke desa tersebut. Saat itu pukul 1 WITA kami menginjakkan kaki di pulau Lombok. Naik angkutan umum berjenis L300, kami masih harus berdesak-desakkan sampai 3 jam, dan akhirnya kami melihat pemandangan gersang dan beberapa mil kemudian melihat pesisir pantai yang mulai terlihat jelas, tanda bahwa tak lama lagi kami akan sampai ketempat tujuan kami. (beberapa di antara kami sempat mengadakan survei ke lokasi ini).

Yang tertidur terbangun, yang melamun kembali fokus, betapa mereka terpesona dengan pemandangan ini. Betapa jelas tergambar di wajah mereka, tak sia-sia datang dengan beban yang begitu berat ketika melihat pemandangan yang mempesona ini. Tiba-tiba tergambar jelas di wajah mereka betapa letihnya mereka. Tapi senyuman itu masih menghiasi muka mereka dengan ceria. Semakin ceria ketika mobil sudah masuk ke gapura desa, seorang warga menyambut kami setengah berteriak “Selamat Datang KKN….” cengiran bangga dan terharu nampak di beberapa muka teman-teman ku ini….
Terima kasih teman atas kerjasamanya, semoga kita bisa bertahan bersama sebagai sebuah keluarga baru disini, di desa Sugian ini selama 2 bulan kedepan…..

1936898_1179822220800_1276895_nrombongan komunikasi 2006 habis upacara pelepasan KKN

kamar tamu rumah Bik Nur,
12 Juli 2009
Dusun Tekalok, Desa Sugian, Nusa Tenggara Barat..10.15 pm.