UiO, Quota Scheme, dan Galau

Tau Norwegia ?

Sering dengar tapi minim pengetahuan tentang negara itu. Haha, sama! Aku pun begitu. Dulu sebelum berangkat ke negeri salmon, aku tak tahu bahwasanya Norwegia begitu mempesona. Iyakah ? Mari kita buktikan.

Pilpres 2014, selepas magrib, aku buka email, niatku hanya ingin mempersiapkan presentasi untuk pekerjaanku esok hari. Aku menemukan dua buah email, si empunya email menuliskan subject yang bikin meriang “Letter of Admission”…apakah ini artinya…??!!

Yap, Puji Tuhan, Alhamdulillah lamaran melanjutkan sekolah pasca sarjana di Universitetet i Oslo selangkah lagi menjadi kenyataan. Yang buat bikin happy karena akupun dianugerahi beasiswa oleh pemerintah Norwegia, namanya Quota Scheme. Jadi, tak perlu pusing untuk mencari funding sendiri. Alhamdulillah. Senang tak karuan rasanya.

Lalu mengapa UiO ? Mengapa Norwegia ? Mengapa seakan-akan melupakan LoA dari Belanda dan tiba-tiba pindah haluan ke Norwegia?

Alasannya banyak! Jangan dikira aku ndak ada acara galau dan sempat berfikir untuk ndak jadi berangkat ke Norway. Pertama begini, kampus tempat dimana masa ambil essatu dan juga menjadi tempat mencari rejeki sementara ini memiliki skema kerjasama dengan universitas di Norwegia, salah satunya dengan UiO (Universitetet i Oslo), kala itu aku banyak mendapat dukungan dan ‘dijual’ secara politik oleh kampus untuk berangkat saja ke Oslo. Ya sudah, pertimbangan karir, akhirnya centang pertama (√).

Kedua, beasiswa sudah satu paket. Sebelum mendaftar di UiO, 7 aplikasi sekolah dan beasiswa sudah aku kirimkan. 4 di daratan Inggris (Bournemouth University, Surrey University, Leeds Metropolitan University, dan Manchester University), 1 di Skotlandia (Glasgow University), 2 di Belanda (Wageningen University dan Rijkuniversiteit Groningen). Terakhir, ini betul-betul terakhir, setelah selesai dengan 7 aplikasi, lalu terbitlah informasi mengenai keberadaan Universitetet i Oslo beserta skema beasiswa pemerintahnya. Berbekal informasi yang ada, dikirimkanlah lamaran ke delapan. Melalui DHL, pengiriman dokumen yang kala itu dhargai Rp 500.000,- meluncur ke Norwegia. Sedikit menyombong, lamaran sekolah di ketujuh universitas tsb, 6 diantara nya mulus. LoA meluncur melalui email pribadi. 1 gagal adalah lamaran di Leeds Metropolitan University, di Inggris. Hampir semua pengumuman LoA itu aku terima akhir tahun. PR selanjutnya adalah mencari beasiswa, krn di Inggris aku dapat beasiswa namun hanya sebatas pengurangan 50% dari tuition fee. Sisanya aku cari sendiri, lalu melamarlah aku kepada lembaga-lembaga beasiswa, sbb: Ford Foundation, Tanoto Foundation, Chevening, Dikti, dan StuNed. Hasilnya, semuanya NIHIL.

Belum patah arang, Februari 2014, aplikasi LPDP dengan mencantumkan LoA dari Wageningen University dimulai. Lolos dokumen, saatnya sesi wawancara, aku dapat di bulan April tanggal 14 tahun 2014. Namun, di tanggal 9 April semua berubah. Datangnya email dari UiO membuat pertimbangan disusun kembali. Yang paling menguntungkan adalah aku tak perlu mencari biaya tambahan untuk sekolah disana. Karena aplikasi ke UiO aku ajukan beserta dengan beasiswanya. (√)

Ketiga, have you seen Norway in google images ? If you haven’t seen them, go check it first before read the rest of my blog (here https://www.google.com/search?q=Norway&client=firefox-b&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwjm1ZvMyZjRAhURR48KHVuMDCEQ_AUICigD ) now you see it, how do you think ? Go or denied it ? (√)

Keempat, betul juga ketika teman baikku bilang, go and try to stay on something that you have not been experienced yet. You’ll be coming back with another point view. Poin nya adalah, Norway bukan tujuan populer mahasiswa Indonesia untuk lanjut kuliah, mungkin dengan itu aku bisa menjadi satu dari beberapa orang yang punya sudut pandang dan cerita lain tentang sekolah di luar negeri, tidak melulu Belanda, Inggris, dan Amerika. (√)

Sudah 4-0 untuk centang didaftar pro, list kontra masih kosong.

Kontra atau lebih tepatnya disebut dengan faktor kegalauan yang membuat Norway nyaris ditinggalkan adalah rasa tetap maunya Belanda, selain karena punya sanak saudara disana, 2 teman baikku juga tinggal disana, satu orang lagi adalah mantan kekesihku dulu. Membayangkan tinggal dluar Belanda kesannya jadi sedikit menakutkan. Sendirian dan asing. Apalagi Norway yang jumlah orang Indonesianya ndak ketauan berapa orang. Itulah alasan di kontra, cukup panjang tapi tidak cukup masuk akal untuk menjadi titik berat.

Setelah menimbang dengan cermat, bertanya sana sini terutama ke keluarga, teman-teman senior, ya sudah, dengan mengucap bismilah- akhirnya diputuskan untuk disudahi saja kegalauan itu. Berangkatlah kau ke Norwegia, menerima UiO dan beasiswanya sebagai pendamping hidup selama 2 tahun kedepan dalam suka dan duka..

#eh

Jogjakarta, selasar timur kampus biru.

19 Juli 2014

Next: Persiapan keberangkatan….

Advertisements

Author: ayudhirapr

happy student ayudhira.pradati@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s