Visa dan Isi Koper

Membayangkan Norway yang ada hanya gelisah dan penasaran bercampur jadi satu. Informasi yang didapat minim, aku menemukan sebuah tautan dari PPI Norwegia…tapi itu ketika dijaman dr.Tarmidzi Taher jadi duta besar RI untuk Norwegia ditahun 2001 (http://www.geocities.ws/ppi_norwegia/profil.htm) 0_O.

Pusing bukan ? haha..tapi disitulah menariknya parnonya. Kita jadi semacam seorang pejuang, calon-calon pelajar di Norway harus siap dengan segala kemungkinan di lapangan, termasuk kemungkinan jadi satu-satunya mahasiswa Indonesia disana…#tsaah

Oh iya, di dalam cerita sebelumnya, kan aku bilang ada 2 buah email? Satu berisikan ttg LoA dan segala keperluan administratifnya, yang kedua isinya lebih kepada before coming to Oslo, termasuk link ke internasional student di grup facebook. Beruntungnya waktu itu, persis pas buka tautan itu, ada postingan baru seseorang dengan inisiatif yang luar biasa menanyakan asal mahasiswa dan jurusan yang akan di tempuh. Iseng, aku pun ikut serta menulis asalku dan jurusanku di UiO. Tak disangka, di tautan itulah, aku akhirnya menemukan 3 makhluk calon mahasiswa dari Indonesia juga. HAHAHA! Akhirnya saya ndak sendirian kesananya, terus terang, waktu itu lebih lega rasanya menemukan nama-nama Indonesia daripada nama calon teman sekelasku. rasanya kayak menemukan teman hidup begitu.. :p

Sebut saja mereka pak reja, mbak elin, dan kak win. Basa-basi sebentar di chat facebook, bikin WAG, lalu setali tiga uang ketemu juga dgn grup orang-orang Indonesia di FB, meski ndak banyak tapi mereka super baik-baik mau meladeni pertanyaan kitorang ini. Setelah ngobrol barang sebentar akhirnya kita sepakat untuk segera mempersiapkan segala sesuatunya. Apakah itu..? Cekidot:

Dimulai dari Visa:

  • Pengurusan visa masuk ke Norwegia ndak susah cuma agak rumit. Buat aku rumit apalagi ketika tempat tinggalmu jauh dari hiruk pikuk ibukota dan segala kemudahan akses ke kedutaan besar negara tujuan.
  • Pembuatan visa masuk Norway tidak dilayani di kedutaan besar Norwegia untuk Indonesia lagsung, namun melalui sebuah agen bernama VFS Global (http://www.vfsglobal.com/norway/indonesia/) tapi emang kayaknya untuk saat ini hampir semua pembuatan visa ke eropa menggunakan jasa VFS ini.
  • Syaratnya bisa dilihat di website nya, kurang lebih ya paspor, ktp, kk, akta lahir, surat keterangan dari kampus beserta sumber pembiayaan, UDI, dan tenancy contract atau jaminan tempat tinggal selama di Norwegia.
  • Setelah menerima LoA dan mengkonfirmasi penerimaan di website kampus, maka selanjutnya adalah mendaftar ke UDI. UDI ini adalah sistem imigrasi dan kependudukan. Biayanya sekitar 2500 NOK sekitar hampir 5 juta rupiah. Form dari UDI ada beberapa lembar dan harus diisi. Lalu setelah mendapat konfirmasi dari UDI, berkas-berkas diikutsertakan didalam dokumen kelengkapan visa.
  • Untuk syarat legalisir akta lahir dan kartu keluarga cukup bikin saya ngos2an dl. Alasannya karena harus mampir ke penerjemah tersumpah dulu sebelum menuju ke Kementrian Hukum dan Ham lalu ke Kementrian Luar Negeri sebelum aman bersama dokumen lainnya di VFS.
  • Untuk teman-teman sekalian, terutama yang surat-suratnya perlu di legalisir di kantor pemda setempat, harap disiapkan baik-baik, dibaca berulang kali, jika ada yang perlu ditanyakan harap telepon ke pusat informasi di kantor tujuan dulu sebelum meninggalkan rumah. Ancaman bolak-balik karena tidak cermat dan mendadak bete itu sumpah bikin emosi kacau balau.
  • HINDARI CALO. Mudah memang, kita tinggal ongkang-ongkang kaki sambil ngopi di starbucks tapi jasa calo itu tidak sesuai undang-undang yang berlaku dan melukai ibu pertiwi yang ingin bangkit #tsaah.
  • Setelah semua dokumen lengkap akan ada jadwal untuk rekam biometri (sidik jari) untuk kelengkapan administrasi dokumen pribadi dan perjalanan.
  • Tunggu kira-kira 2-3 minggu lalu akan ada telepon dari Jakarta untuk konfirmasi bahwa visa / surat masuk kita telah selesai.
  • Ingat ini hanya surat ijin masuk ke Norwegia bukan surat ijin tinggal sementara.

Lanjut, setelah rempong dan harus ijin ke kantor selama seminggu, akhirnya semua berkas dan dokumen syarat-syarat itu selesai. sembari menunggu visa dan paspor kembali ke tangan, aku dan geng Oslo baru ini mulai siap-siap untuk mengisi koper, apa aja yang harus dipersiapkan dan dibawa. rumornya musim dingin di Oslo ini lebih parah daripada di eropa daratan (ini istilah kami untuk menggambarkan eropa dibawah Norwegia dipeta) hehe..

Komunikasi dengan senior-senior disana bilang bahwa kami ndak perlu beli jaket winter dari Indonesia di mangga dua, percuma katanya. ndak bakal kepakai karena masih terlalu tipis. Wah! Ini dia keseruan kedua, bayangin sedingin apakah Oslo..?! Lalu obrolan berlanjut ke isi koper yang dperlukan saja, ini dia list nya:

  • Obat-obatan pribadi semacam OBH, decolgen, tolak angin, panadol gt2, obat generik yang punya masa expired lama. karena, tipikal negara barat pada umumnya, susah dapet obat disana, masuk angin itu ndak exist, paling obatnya cuma disuruh istirahat atau dikasih paracetamol. dan lagi berobat di Norway itu….mahal bingit. Makanya kalo ndak kepaksa jangan sampe sakit.
  • Make Up! Ini penting buat kaum hawa, alasannya cuma satu. Di Norway lagi-lagi mahal. Kalo masalah toiletris, meskipun mahal tapi masih masuk akal, jadi toiletris ndak perlu berat-berat nyetok dari kampung halaman. kalo tetep nyetok sih namanya BERLEBIHAN.
  • Sepatu kets, bisa jadi opsi yang termasuk primer. Karena intensitas kita berpindah tempat dengan berjalan kaki cukup tinggi, maka sepatu kets jadi pilihan yang paling pas. Kenapa jadi isi koper yang primer, lagi..di Norway mahal.
  • Alat tulis, mau jadi mahasiswa kan ? Maka alat tulis jadi kebutuhan wajib juga. Emang disana ga ada ? Ya ada, tapi tau sendirilah alasannya kenapa nyetok dari rumah. hehehe..sekedar saran aja sih ini.
  • Sprei, (ini pendapatku pribadi) plis pertimbangkan bawa seprei sendiri. Ada IKEA memang di Oslo tapi untuk sprei yang pantas pakai (dalam hal ini adalah cukup tebal untuk membuat debu dari kasur ndak nempel ditubuh kita dan bikin gatel-gatel) bawalah sprei dari rumah, di IKEA yang harganya pas dikantong cuma ada yang tipis (lebih kepada alas kasur sih itu bukan sprei).
  • Baju seperlunya, kaos, sweater, itu aja sih. ndak perlu banyak-banyak juga. Situ mau kuliah apa mau fesyen show ? Tapi bener ndak perlu banyak2, wong kalo udah kelar summernya kamu ndak bakal ketauan ga pernah ganti kaos, ketutup sweater sama jaket mulu soalnya..other than that, semacam daleman di sana banyak dan anehnya ndak begitu mahal dibandingkan harga sabun. Jadi kesimpulannya, jarang mandi ndak papa tapi sering-seringlah ganti kancut!
  • Long John, banyak yang rekomen ini, tapi buat aku pribadi, ndak pernah aku pakai, toh survive melalui winter. Ingat yang penting jaket luar yang bener, makan yang didalam akan aman. #apasih
  • Yang ini penting disegala level (survei dari pak reja, bu elin, jeng win, dan saya):
    • Indomie
    • MSG segala rupa, yang merah sama kuning itu
    • Bumbu instan yang buat hidup jadi lebih gampang, plis bawa yang banyak seriusan.
    • BonCab
    • Kopi (ini opsi sih, buat yang suka ngopi aja, bawa kopi dari rumah, kopi Norway asem bet rasanya).
    • Rokok. Jangan tanya rokok disana mahalnya kayak apaan tau. Nyaris tobat ngrokok tuh orang-orang saking mahalnya, tapi yo akhirnya ndak jadi. Teori thok! :p
  • Sisa yang lain, disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Begitulah, cerita kali ini adalah tentang visa dan isi koper, ada yang perlu ditanyakan lebih detail sila hubungi saya di ayudhira.pradati@gmail.com

Begitu.

Salam saya yang cerita ttg keberangkatan ke norway dari sudut perpustakaan yang sudah sepi dan rapelan ujian metodologi yang belom kelar TT_TT

Osl. 10 Dec 2014.