Terusir Keluar dari Nirwana

Tiga minggu sudah. Kepalaku masih saja penuh pertanyaan. Ada apa denganmu? Aku tak kunjung menemukan jawabannya. Meski semalam, aku dengar lagi suaramu. Suaramu yang menurutku menentramkan. Begitu lembut dan riang seperti biasa. Aku mendengarkan kau bercerita. Tahukah kau betapa bahagianya aku semalam?

Tapi semalam pula, bukan sepenuhnya suara riang dan penuh percaya yang aku dengar. Nada suaramu tiba-tiba meragu seiring dengan tanyaku tentang tiadamu dihari-hariku belakangan ini. Aku mulai merasa kehilanganmu. Ada apa denganmu? Sayang, aku sungguh tak mengerti. Kau bilang perasaanmu berubah. Berubah menjadi gulita terhadapku. Ketika kutanya mengapa, kau tak memberiku jawaban yang memuaskan tahuku. Aku kesal tak karuan semalam. Kau bukan seperti yang aku kenal, kau berubah sangat mengesalkan dengan keragu-raguanmu.

Tiga minggu yang lalu, dijam yang sama saat ini, aku begitu gembira. Membayangkanmu akan kembali menyapaku setelah seminggu dilautan lepas tanpa kabar. Namun ternyata, angin lautan yang menyisir sela rambutmu turut pula menghempas rindumu padaku. Kecewakah aku? Tentu saja. Aku sibuk bertanya. Lagi-lagi ada apa denganmu?

Semalam, aku takut aku akan kehilangan suaraku ketika aku berbicara padamu. Setakut perasaanku kehilanganmu.

September 2015,

Aku tak ingat pasti tanggal berapa petang itu. Ketika pertama kali aku menjabat tanganmu. Yang aku ingat, jabat tangan kita saat itu bersenandung mesra dengan diiringi semilir angin musim gugur di Oslo, aku ingat betul bagian itu. Kita menghabiskan malam bersama sebelum kau pamit meninggalkan rumahku malam itu. Malam itu juga, entah ada yang merasukiku. Aku berani meminta nomer telepon genggammu. Aku terpesona denganmu? Sepertinya begitu. Lihat saja perilakuku. Beberapa hari setelah itu tak kuduga kita asik terlibat percakapan di dunia maya, saling bertukar kabar dan cerita. Aku ingat kala itu kau mengunjungi salah satu pulau legendaris di Yunani.

Tak perlu rasanya kuceritakan detail percapakan kita. Rasanya sudah ratusan pagi kulewatkan dengan melihatmu di ponselku. Saat itu hatiku mulai membenarkan jika memang ada rasa dihatiku untukmu. Aku menyadari percakapan kita tak lagi tentang bagaimana harimu? Ada pesan lain didalam ribuan kata-kata itu. Berbaris rapi di ponsel kita berdua, berbalas senyum dan canda.

Påske, Maret 2016,

Kau memberiku kabar, kau akan mengunjungiku, selepasmu pergi ke negara paman sam. Tiba-tiba saja liburanku lebih semarak, aku tak sabar menunggumu datang. Aku menjemputmu, aku ingat saat itu aku begitu gugup, aku bawa seorang teman. I haven’t grew up well then. Aku menemukan matamu. Akhirnya, setelah berbulan-bulan berbayang layar ponsel sialan itu. Tak banyak yang kita bicarakan malam itu, hanya menonton film dan tertidur.

Agustus 2016,

Waktu berjalan sangat lambat rasanya, dia seolah membiarkan aku tersiksa didalamnya. Semakin lambat waktu berdetik, semakin perih rasa didadaku. Tiba-tiba saja aku tak mendapati lagi kabarmu setelah kepulanganku dari utara. Terlebih setelah kepulanganmu dari lautan lepas. Membiarkan rencana kita menganga hampa. Jangankan telepon, sebaris kalimat sapamu pun sudah menghilang dari rutinitas pagiku. Benar, aku tak mengerti. Aku tak tau apa yang terjadi padamu, pada kita. Impian-impian kita hancur berantakan, merasa ditinggalkan. Aku memburumu. Maafkan aku. Aku tak bermaksud begitu.

Hingga semalam aku akhirnya mendengar suaramu setelah lama kunanti. Tapi lagi-lagi aku kembali berurusan dengan kekecewaan. Rasanya begitu kuat menghantam ulu hati ketika aku mendengarmu berkata bahwa kau tak lagi menginginkan bersamaku. Kau mulai meragu setelah hari-hari yang kita lalui bersama. Bagitu saja, tanpa ada duka diantara aku dan kau sebelumnya, kau memilih untuk menyerah sekarang. Menyerah dan meninggalkan aku. Aku begitu terpukul. Rentetan perasaan datang berbondong-bondong, menjejali dadaku hingga tak karu2an. Andaikan duka adalah ruang yang dapat dibagi, aku akan mengajakmu serta. Merasakan apa yang telah kau putuskan untuk menyakitiku.

Kita terbang ke nirwana bersama, singgah sementara disana, namun hari ini aku terusir keluar dari nirwana. Sungguh sayang, egomu begitu luar biasa menyiksaku saat ini. Diantara rasa itu aku menyadari, bahwa rasa kecewa dan ketakutan adalah kombinasi rasa yang paling menyiksaku. Aku benar-benar kecewa terhadapmu, kau tak mampu menjaga keteguhan hatimu ketika kita jauh. Kau biarkan emosi-emosi liar tak bertuan mengambil kendali atas hatimu. Aku kecewa ketika segampang itu kau mempermainkan perasaanku. Aku kecewa terhadap diriku sendiri yang begitu percaya kepada mimpi kita. Aku kecewa terhadap diriku sendiri yang segampang itu memberikan seluruh hatiku padamu. Lalu lagi-lagi, aku kecewa kepadamu. Aku tak pernah mengira kau sampai hati menyakitiku.

Meski tertatih, aku menghormati keputusanmu. Perasaan adalah penuntun terbaik seorang manusia. Rasa adalah bagian paling hakiki dari setiap individu.

.

.

Sayang, aku tak sanggup lagi menuliskan kata padamu…….setiap kata yang tertuang hanya membuat hatiku makin sesak.

 

Advertisements

Author: ayudhirapr

happy student ayudhira.pradati@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s